HomeContact Us

Newsletter


HER : Heritage Emergency Response
Kelompok Kerja BPPI untuk tindakan tanggap darurat terhadap kehancuran pusaka akibat bencana
Oleh : Catrini Pratihari

Ketika bencana demi bencana menimpa negeri ini, kita menyadari bahwa korban tidak hanya jiwa dan harta benda.

Berbagai pusaka (heritage) baik bangunan fisik/tangible, pusaka alam bahkan talenta tradisi, cipta karsa budaya dan perilaku adat ikut merasakan dampak dari bencana bahkan ada yang hancur karena bencana.
Namun sayangnya upaya penyelamatan terhadap kehancuran pusaka pada saat bencana masih menempati urutan kesekian setelah penyelamatan jiwa dan pemenuhan kebutuhan primer. Tidak banyak yang menyadari bahwa selain menempati peran penting dalam sejarah dan jati diri masyarakat serta lingkungannya,  pusaka dan aktivitasnya mampu memberikan dorongan positif kepada masyarakat korban bencana dalam menjalani proses pemulihan pasca bencana.
Berdasarkan situasi tersebut, ada sebuah kebutuhan mendesak untuk peningkatan kepedulian, pemahaman, serta pengetahuan teknis untuk penanganan pusaka pasca bencana. Saat ini pengembangan program cultural heritage disaster preparedness and response menjadi sangat penting,  terutama di negara yang memang rawan bencana seperti Indonesia. BPPI mencoba mewadahi kebutuhan tersebut dengan pembentukan Kelompok Kerja HER (Heritage Emergency Response). Berbagai tahapan persiapan sudah dilakukan. Mulai dari pembentukan network baik dengan berbagai pihak di Indonesia maupun membuka hubungan dengan UNESCO serta Prince Clauss Foundation dan Blue Shields di Belanda yang memang menangani bidang tersebut. Sejak awal bulan September 2007, BPPI membuka kesempatan kepada setiap orang yang peduli untuk bergabung dalam HER. Anggota HER saat ini berasal dari berbagai daerah yaitu Padang, Nias, Medan, Yogya, dan Jakarta. Mereka akan mendapatkan pelatihan untuk berbagai kesiapan menghadapi pusaka dalam bahaya ketika terjadi bencana, bagaimana mengumpulkan informasi real-time, menyusun rapid assesment terhadap kerusakan pusaka, disain SOP serta menghubungkannya dengan sumber pendanaan. Selain para volunteer yang siap sedia untuk dikirim ke berbagai daerah yang sedang mengalami bencana, maka program HER lainnya adalah mempersiapkan masyarakat lokal sendiri untuk mengenal pusaka di sekitarnya, memberikan perlindungan ketika terjadi bencana maupun menjaga kesinambungannya dalam keseharian.

Pelatihan pertama HER akan dilakukan di Padang pada bulan Oktober 2007, kemudian selanjutnya direncanakan pelatihan serupa di Yogyakarta pada bulan November 2007.

            Mari bekerja bersama dalam HER !

Kegiatan ”Pusaka Jogja - Jateng Bangkit” dalam membangun kembali keahlian membatik untuk pemulihan sektor ekonomi lokal pasca gempa Yogya 2006



Musyawarah Kota Tua
Oleh : Suhadi Hadiwinoto, Dewan Pimpinan BPPI
Tentunya kita semua menyambut baik atas perhatian, upaya, dan pengadaan anggaran DKI untuk revitalisasi Kota Tua. Tentunya kita semua sependapat bahwa kegiatan upaya revitalisasi Kota Tua diharapkan nantinya akan semakin efektif, efisien, serta semakin berkualitas dan mampu memperkuat kehidupan ekonomi dan sosial budaya masyarakat.
Kita tentunya sependapat bahwa upaya revitalisasi yang sangat kompleks itu akan berhasil jika didukung secara aktif oleh Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat (penghuni, pemilik, pekerja disitu, pengunjung, masyarakat Jakarta, serta berbagai organisasi profesi dan pemerhati).
Partisipasi masyarakat dan dunia usaha tidak hanya dalam bentuk menyumbang uang/pajak dan mematuhi peraturan, tetapi juga dengan kegiatan aktif menggairahkan Kota Tua dalam kehidupan ekonomi dan sosial budaya.. Saat ini upaya itu ada, tetapi masih sepotong-sepotong dan belum sempat terintegrasi menjadi suatu gerakan masyarakat.
Diperlukan upaya internal di kalangan masyarakat, dunia usaha, dan di kalangan Pemda sendiri, untuk selanjutnya berintegrasi dalam gerakan bersama masyarakat – dunia usaha – dan pemerintah dalam kesepakatan yang solid. Upaya ini tampaknya belum sempat berkembang menjadi suatu kesepakatan dan saling pengertian yang utuh.
Upaya ini tentunya tidak dapat berkembang hanya dengan satu kali pertemuan, atau loka karya, atau seminar yang harus membahas begitu banyak masalah yang kompleks dalam waktu yang singkat. Diperlukan komunikasi yang lebih panjang dan intensif diantara berbagai fihak itu untuk dapat saling memahami dan mencapai kesepakatan.
Karena situasi ekonomi dan sosial budaya selalu bergerak dan berkembang, diperlukan peluang dan wadah untuk mengembangkan komunikasi itu dalam proses yang berlanjut, tidak terputus-putus, dan tidak tergantung pada satu orang (oknum) saja. Proses ini harus berkembang sebagai suatu gerakan bersama.
Kita tidak ingin berpanjang-panjang mengenai impian yang muluk-muluk dengan jargon yang indah-indah yang terdengar setiap hari. Kita juga tidak ingin menggelar perbedaan dalam konflik-konflik yang semakin tajam. Kita ingin secara nyata menterjemahkan keragaman pandangan menjadi suatu sinergi yang positif membangun.
Banyak yang mengatakan bahwa upaya menyatukan pandangan yang bertentangan itu mustahil dapat berhasil, tetapi pengalaman sejarah membuktikan bahwa kemampuan mendekatkan keragaman itu menjadi sinergi secara konkrit telah menghasilkan lompatan kedepan yang menguntungkan semua unsur didalamnya.
Pendekatan ini hanya dapat berlangsung dalam proses dimana berbagai unsur tidak saling menghujat, tidak saling melecehkan, tidak saling menyepelekan pandangan fihak lain. Semua unsur harus saling terbuka dan bersedia mendengar pandangan fihak lain. Tidak boleh ada yang mau menang sendiri dan bersikukuh pendapatnya yang paling benar.
Kedewasaan menjalani proses yang demokratis dalam kesetaraan ini perlu dibangun dan dipupuk. Proses ini tidak bisa langsung berhasil dalam satu atau dua minggu. Dan sayangnya, tidak ada satu ”champion” yang punya power dan ketelatenan untuk mendorong dan membimbing proses ini berjalan
Kebanyakan orang berpandangan bahwa proses ini tidak akan berhasil mengingat berbagai kerumitan ekonomi dan sosial budaya yang kita hadapi. Banyak yang berpendapat bahwa proses ini tidak ”worth” untuk diperjuangkan. Masing-masing sibuk dengan ”kotak”nya sendiri dan gamang mencoba bersinergi dengan kotak yang lain.
Masing-masing fihak ssibuk mengejar targetnya sendiri dan menganggap bahwa upaya upaya menyambung komunikasi itu hanya akan menghambat dan memperlambat kegiatan yang digarapnya. Mereka tidak menjadari bahwa sekali saling pengertian itu terbangun, prosesnya akan jauh lebih cepat, efektif, mencapai hasil yang lebih luas.
Khusus untuk Kota Tua, kami sangat menganjurkan adanya suatu ”Musyawarah Kota Tua” yang dihadiri oleh wakil Pemda, wakil masyarakat lokal, wakil organisasi pemerhati/profesi, dan wakil dunia usaha. Mereka bertemu secara berkala dan mencoba merintis terbangunnya saling mengerti dan kesepakatan bersama.
Mereka harus telaten dan punya nafas panjang. Mereka harus bisa menjembatani berbagai pandangan yang berbeda tanpa menggurui dan memaksakan kehendaknya. Ada beberapa pribadi yang sangat bersemangat, tetapi secara ekstrim meyakini pandangannya dan tidak sempat membuka diri mendengarkan pandangan lain. Ini perlu di-minimize.
Mempunyai keyakinan pada konsepnya memang perlu, tetapi jangan sampai menjadi ekstrim sehingga ”menakutkan” atau ”menjengkelkan” fihak-fihak yang ingin diajak bermusyawarah bersama. Kematangan dan ketelatenan untuk me-mediatori proses penggalangan pandangan bersama sangat diperlukan.
Akan sangat positif jika Pemda DKI dapat memfasilitasi pengembangan Musyawarah Kota Tua sebagai suatu wadah partisipasi berbagai fihak terkait. Musyawarah Kota Tua tidak ingin menjadi ”Power Center” dengan kekuasaan operasional. Musyawarah ini lebih cocok berperan sebagai kekuatan moral yang menyalurkan pandangan stakeholders.
Sangat diharapkan bahwa Pemda segera mendorong proses ini, karena jika tidak, ia akan menggelinding sendiri di masyarakat.